Halaman

Kamis, 13 Desember 2012

Arti Seorang Sahabat



Assalamu’alaikum…

Saya pernah berpesan kepada teman saya di Pesantren Manarul-Huda, Cileungsir, agar sebaiknya mempunyai teman untuk selalu kita perhatikan amal-amalnya barang seorang saja. Tiap orang paling tidak punya satu orang yang diperhatikan amal-nya, yang selalu kita ingatkan, dan senantiasa diajak pada jalan yang benar. Tentu dengan cara-cara yang bijaksana, tidak langsung blak-blakan, cara-cara yang halus atau menggunakan semacam strategi psikologi, sehingga tanpa disadarinya teman kita yang asalnya salah arah, kita perbaiki ke arah yang benar. 

Saya selama kost memiliki beberapa teman yang saya perhatikan, dan selalu saya coba rangkul perlahan-lahan, saat ini ada 5 orang. 

Pertama teman kost saya sendiri, jurusan Agribisnis. Kamar kami berdekatan. Alhamdulillah, jika ada kesempatan, kebetulan saya tidak ke mesjid kami selalu sholat berjamaah. Lebih seringnya saya ke mesjid kalau sholat, namun dia belum mengikuti langkah saya. Dia masih sholat di tempat kost. Tapi alhamdulillah itu saja pun merupakan anugerah yang besar, dibandingkan teman-teman yang lain, yang masih mengabaikan sholat. Semoga mereka, teman-teman saya yang lain mendapat hidayah dan taufik-Nya! Aamiin.

Kedua,dia dulu adik tingkat saya, sekarang dia sudah bekerja di sebuah SSB, di Tasikmalaya, mengajar sepak bola, ia mengerti sendiri untuk senantiasa sholat berjamaah, bahkan ditambah dengan amalan-amalan sunat yang lain dan selalu mengikuti kuliah Yusuf Mansur, kami berdua pun selalu membahas artikelnya tiap malam Sabtu. Subhanallah, mengasyikkan sekali pemaparan kuliah kehidupan yang dibahas, mampu memberikan keyakinan lebih. Sebenarnya saya lebih banyak belajar kepada sahabat saya yang satu ini.

Ketiga, teman sejurusan saya waktu di Biologi, sahabat saya yang ini mungkin masih sibuk di dunia pemotretan dan percetakan fotonya. Kalau kami bertemu di depan kampus, atau tempat lainnya, pembicaraan kami selalu nyambung ke arah permasalahan tauhid dan semangat ke-Islaman. Kami senantiasa saling mengingatkan untuk mengutamakan ibadah di atas kepentingan lain. Saya pernah bilang, bahwa apa pun profesi seseorang, ibadah selalu nomor satu. Saya tegaskan bahwa sholat dan ibadah wajib dan sunnat lainnya bukanlah pekerjaan kiyai, pekerjaan ajengan atau ustadz, tetapi tugas dan kewajiban seluruh umat Islam. Merupakan tugas siapa pun yang mengaku beragama Islam.

Beberapa waktu kemudian datang lagi, seorang yang masuk ke kost-an tempat saya tinggal, mahasiswa baru. Saya perhatikan, terkadang dia ikut sholat berjamaah di mesjid. Saya dengar di kamarnya memutar MP3 tilawah Al-Qur’an, dan denger-denger dia juga membeli 2 buah buku karangan Yusuf Mansur. Baru satu kali saya sholat berjamaah dengan kawan baru ini di kamar kost saya. 

Kelima, terakhir, kamarnya deket kamar saya, baru-baru ini saya mendengarnya tilawah Al-Qur’an di kamarnya. Semoga Allah menganugerahi hidayah dan taufik yang lebih untuknya. Aamiin.

Semoga Allah meningkatkan amal ibadah semuanya. Aamiin.

Gambar : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar