Assalamu’alaikum…
Akhir-akhir ini hujan terus mengguyur Tasikmalaya. Barangkali sedang
menuju puncaknya. Umumnya pas turun menjelang ashar, jadi masuk waktu sholat
ashar pas gede-gedenya. Orang-orang kebanyakan jadi males ngapa-ngapain, selain
udaranya dingin, mau keluar juga basah. Apalagi kalau sudah urusan pergi ke
mesjid untuk sholat berjamaah. Nafsu sering kali merayu, supaya tetap tinggal
saja di rumah, tidur, kalau nggak sholat sendiri saja. Disadari atau tidak, itulah
ujian keimanan. Apakah kita akan mengutamakan Allah atau nggak? Kalau nggak ya
tidur, atau mengakhirkan sholat, paling bagus sholat sendiri di rumah di awal
waktu. Jika kita memilih mengutamakan Allah, kita akan sadar waktu (nggak lupa
waktu), so otomatis kita pun bersiap-siap sejak pukul 15.00 (sepuluh
menit sebelum masuk waktu ashar), atau bahkan lebih awal, ambil air wudhu,
terus berangkat ke mesjid pake payung atau jas hujan, sholat tahiyatul masjid 2
rakaat, tadarus sambil nunggu waktu ashar, terus adzan. Sebab biasanya mesjid
kosong kalau hujan, nggak ada yang adzan, ya kita saja yang adzan.
Mengatasi persoalan hujan, cuma mengatasi persoalan basah atau tidak
kan? Cara mengatasinya, sama sekali nggak berat. Ada payung, ada jas hujan.
Kalau dingin ya pake jaket. Itu namanya mencari solusi, bukan malah cari alasan
ini itu. Hati-hati, yang mengajak beralasan itu nafsu kita yang ditumpangi
setan. Tentu kita lebih memilih taat sama Allah kan, daripada tunduk sama
rayuan setan? Sama sekali nggak berat kalau kita kerjakan, coba baca lagi
tulisan saya yang lalu “Siapa Sang Penipu?”, kita jangan sampai tertipu oleh
nafsu kita dan setan.
Beberapa waktu yang lalu usai menempuh perjalan ke Tasikmalaya, tepatnya
pada hari Rabu Tanggal 12 Desember 2012, saya sholat ashar pukul 16.30.
Kejadian yang sangat saya sesalkan. Tapi insyaAllah ini jadi pelajaran yang
sangat berharga bagi saya. Saya akui tindakan saya itu tindakan yang ceroboh,
ya mengakhirkan waktu sholat wajib adalah tindakan yang ceroboh dan gegabah.
Padahal dalam perjalanan saya melihat jam di ponsel saya menunjukan pukul
14.45, dan saya lihat di arah tujuan saya sudah mendung. Suasana juga sudah
gelap, menandakan hujan akan turun beberapa saat lagi. Bodohnya, saya malah bersikeras
melanjutkan perjalanan dan akan berhenti setelah adzan saja, tapi tak disangka
hujan pun turun dengan sangat deras sebelum adzan berkumandang, saya kenakan
jas hujan. Karena tetap saja basah, terutama celana dan pergelangan tangan,
akhirnya saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan saya dan mengazzamkan
untuk sholat ashar setelah sampai di tempat kost saya. Hasilnya saya
sholat ashar sendirian pukul 16.30.
Saya berharap, jika mengalami hal yang sama lagi, saya akan berhenti di
sebuah mesjid menunggu sholat ashar tiba, membiarkan hujan turun, baru setelah
sholat ashar berjamaah di awal waktu, saya akan meneruskan perjalanan.
Demikianlah, hujan memang dapat menjadi masalah bagi proses ibadah untuk
yang selalu beralasan. Tapi tidak akan menjadi masalah sama sekali, bagi yang
mampu menyiasatinya. Tidak akan. Justru kita dituntut berprasangka baik sama
Allah. Ya, hujan ini merupakan rahmat sekaligusujian bagi hamba-hamba-Nya,
barang siapa yang mampu mengatasi ujian ini, adalah hak Allah untuk menambah kedudukan
dan kemuliaan si hamba di sisi-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang gemar
mengatasi ujian-ujian di dalam menghambakan diri sebaik-baiknya kepada Allah.
Aamiin.
Gambar : Google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar