Halaman

Sabtu, 15 Desember 2012

OTOMATIS... TIS

Assalamu'alaikum....

Saudaraku sekalian...

Mencintai Allah tidak cukup diakui dengan lidah. Tidak cukup, dengan mempelajari teori-teori dan pemahaman, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan. Yang mudah-mudah saja dulu, misalnya kita usahakan sholat wajib yang lima waktu selalu dilaksanakan di awal waktu, dan senantiasa berjamaah. Sukur-sukur kalau ditambah kualitas pengabdian kita dengan amalan-amalan sunat, apalagi sampai bisa istiqamah. Guru saya, Ua Solihin, Imam mesjid Al-Muslih di Dusun Kubang, Desa Cisontrol, Kec. Rancah, pernah menyampaikan suatu keterangan bahwa jika kita sudah tidak bisa meninggalkan amalan sunat, nah... apalagi yang wajib, tentu kita akan melaksanakannya lebih baik lagi, dan lebih disiplin lagi.

Tempo hari, hari Jum'at tanggal 14 Desember 2012, sepulang kuliah dari pascasarjana, saya berjumpa dengan saudara karib saya, Arif di tempat mie ayam. Karena sudah cukup lama tidak ketemu, saya ngobrol macam-macam dengannya. Awalnya kami membicarakan masalah pekerjaan. Lama-lama arah pembicaraan pun berbelok ke masalah kebahagiaan. Ya, sebenarnya yang dicari setiap orang dari bekerja adalah kebahagiaan. Tapi kebahagiaan yang mana? 

Kita sering keliru, dengan mengesampingkan urusan ibadah karena sibuk bekerja? Sebenarnya kebahagiaan mana yang kita cari? Tentu saya katakan yang hakiki, ya dengan ibadah, kita akan bahagia dengan kebahagiaan yang sejati. Dengan bertauhid, mengesakan Allah dalam bentuk menempatkan urusan dengan Allah di atas urusan yang lain. Meskipun itu bekerja, yang menghasilkan uang. Andaikata Anda harus ketemu klien yang menjanjikan keuntungan 100 juta rupiah umpamanya, tapi jadwalnya pas sholat dzuhur, tinggal Anda pilih, mau milih ketemu klien atau sholat berjamaah dulu? He...he... Silahkan dicoba dalam konteks kesibukan yang lain! Harta mungkin akan membuat kita bahagia. Tapi sebatas harta, tanpa penyembahan yang betul-betul kepada Allah, apalah artinya? Bukankah kalau seseorang sudah meninggal, harta yang dikumpulkan tidak dibawa secuil pun?!

Pembicaraan pun kian berkembang, saya jelaskan pula bahwa orang yang bertauhid itu bukanlah orang yang hanya hafal kitab-kitab tauhid, atau mengerti betul konsep-konsep iman, atau yang memakai jubah dan sorban semata-mata, tetapi mereka yang betul-betul mengimplementasikan imannya dalam bentuk perbuatan. Sehingga selalu mengutamakan Allah, Allah, Allah dan Allah. Tidak peduli profesinya apa. Mau pedagang keliling, mau polisi, mau dosen, mahasiswa, mau tukang bersih-bersih, tapi andaikata pas dia mendengar adzan berkumandang, orang itu menyambut adzan dengan berhenti dari pekerjaannya, kemudian datang ke mesjid, berwudhu, terus sholat berjamaah, subhanallah, itulah orang yang bertauhid. Mengutamakan kewajiban kepada Allah.

Lanjut saya kepada saudara saya itu, bahwa jika kita sudah terbiasa ibadah dengan disiplin, lama-lama, secara otomatis, artinya nggak dibuat-buat dan dipaksa-paksa, nantinya ibadah kita terasa bukan lagi sekedar kewajiban, tapi terasa sebagai kebutuhan. Cirinya, umpamanya kita sudah biasa sholat berjamaah, terus suatu kali ketinggalan berjamaah, cuma satu kali, tapi yang satu kali itu cukup membuat hadirnya rasa menyesal di hati, atau minimal ada ganjalan. Atau andaikata suatu kali keluar dari kebiasaan ibadah sholat di awal waktu, hati kita jadi tidak tenang dan merasa bersalah atau ada yang kurang. Begitu, berarti kewajiban kita sudah jadi kebutuhan.

Saudara saya yang lain, Robi, pernah mengutarakan penyesalannya waktu menceritakan bahwa ia pada suatu hari melewatkan subuh berjamaah tanpa sengaja. Mengapa ia bisa menyesal? Saya simpulkan, sebab ia sudah merasa butuh. Singkatnya: biasakanlah, nanti kewajiban jadi terasa butuh. Ini otomatis. Termasuk, rasa butuh baca basmallah sebelum beraktivitas, berdo'a, sholat sunat, sebelum melakukan tindakan, itu juga lama-lama akan berlangsung secara otomatis. Sebab kebiasaan disiplin ibadah kita sudah "mengundang Allah" untuk senantiasa hadir dalam hari-hari kita. Secara otomatis pula maksiat selalu ingin dihindari, dan sebaliknya berbuat kebaikan selalu ingin segera dilakukan. Alhamdulillah...

Gambar : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar