Bismillahi rrahmaani rrahiim...
Assalamu'alaikum...
Saya sempat tersindir komentar saudara saya di facebook, kurang lebih begini: “Jika kita memilih sesuatu tanpa melibatkan Allah (istikhoroh) artinya kita memperturutkan hawa nafsu”, alhamdulillah, dan terimakasih sebelumnya kepada saudara saya itu. Alhamdulillahi rabbil alamiin saya disadarkan, dan sempat merasa ngeri, tidak sanggup membayangkan kalau saya meninggalkan Allah, dalam mengambil setiap keputusan, setiap langkah, yang kecil sekalipun, terlebih yang besar. Kalau sudah meninggalkan Allah, mau dibawa ke mana diri kita, iya kan? Mau diseret ke arah mana diri kita oleh keputusan-keputusan kita sendiri yang Allah “berlepas tangan” darinya, naudzubillahi mindzalik, astaghfirullah aladziim. Saya wudhu dulu ya (……) Alhamdulillah, he…he… saya jadi malu sendiri, tadi saya sempet males wudhu waktu mau nulis ini. Semoga dengan berwudhu, jadi tambah berkah apa yang saya tulis ini. Aamiin.
Assalamu'alaikum...
Saya sempat tersindir komentar saudara saya di facebook, kurang lebih begini: “Jika kita memilih sesuatu tanpa melibatkan Allah (istikhoroh) artinya kita memperturutkan hawa nafsu”, alhamdulillah, dan terimakasih sebelumnya kepada saudara saya itu. Alhamdulillahi rabbil alamiin saya disadarkan, dan sempat merasa ngeri, tidak sanggup membayangkan kalau saya meninggalkan Allah, dalam mengambil setiap keputusan, setiap langkah, yang kecil sekalipun, terlebih yang besar. Kalau sudah meninggalkan Allah, mau dibawa ke mana diri kita, iya kan? Mau diseret ke arah mana diri kita oleh keputusan-keputusan kita sendiri yang Allah “berlepas tangan” darinya, naudzubillahi mindzalik, astaghfirullah aladziim. Saya wudhu dulu ya (……) Alhamdulillah, he…he… saya jadi malu sendiri, tadi saya sempet males wudhu waktu mau nulis ini. Semoga dengan berwudhu, jadi tambah berkah apa yang saya tulis ini. Aamiin.
Dan semoga ketika kamu membaca tulisan ini kamu mendapat kecerahan hati,
seperti cerahnya pagi saat ini, saat saya menulis artikel ini. Kurang lebih
pukul 06.30. Semoga kamu tidak melewatkannya sedikit pun. Aamiin.
Umumnya setiap orang punya masalah untuk diselesaikan dan selalupunya
pilihan untuk solusinya, atau pilihan lain yang ia belum tahu. Saya pun sama.
Malam tadi, malam Minggu 15/12/2012, sore harinya baca komentar saudara saya itu,
maka malamnya saya sempatkan sholat sunat istikhoroh. Semoga diistiqomahkan!
Aamiin. Saya punya beberapa urusan, tapi saya tidak mau nafsu saya yang membawa
saya. Semoga saja tidak, aamiin. Alhamdulillah, tidak ada yang sulit untuk
melaksanakan sholat berkat pertolongan Allah.
Saya pernah menegaskan kepada teman saya, Robi, waktu ia bercerita
mengenai sholat duha-nya. Katanya “Waktu saya sholat duha, saya tahu
teman-teman saya enak, lagi pada tidur.”, saya tegaskan, bahwa ibadah justru
adalah istirahat paling nikmat bagi kita yang sudah biasa, insyaAllah.
Sehingga, tidur pun terasa kurang nikmat, jika kita tidak menyertainya dengan
berdo’a dan berdzikir sampai terlelap.
Kita mesti sadari, jika kita memulai segala sesuatu tidak bersama Allah,
urusannya bisa panjang, untaian kejelekan yang nanti bermunculan. Ya… kalau pun
bagus, bisa jadi lahiriahnya saja, sementara di hadapan Allah tidak bernilai
apa pun. Misalnya bagaimana mereka yang usahanya sukses, tapi hidupnya tampak
kurang bahagia, kurang bersyukur. Boleh jadi orang tersebut memulai usahanya dengan niat selain Allah, tanpa kawalan do'a, tanpa basmallah, tanpa dzikir, atau malah dengan cara-cara yang tidak halal. Gadis cantik, cakep, tapi kurang didikan
agama sehingga cara berpakaiannya saja tidak mengikuti konsep menutup aurat.
Mungkin orang tuanya jarang “melibatkan Allah” ketika membesarkan dia. Orang pinter, tapi kurang rendah hati, malah dengki, malah
suka minterin orang lain. Barangkali, nungtut ilmunya niat cari duit
semata-mata, bukan karena Allah. Atau misalnya yang tinggal di pesantren, jadi
santri, tapi shubuhnya masih kesiangan, sering diakhir-akhirkan, padahal sudah senior...
sesuatu yang ironi, boleh jadi hatinya
masih hubu dunnya, sebab kurang pandai
menjaga niat. Bukankah itu semua bagus? Hanya saja sebelum kata “tapi”. Amat
disayangkan. Kita semua berlindung kepada Allah dari kondisi-kondisi seperti
ini.
Kita tidak akan pernah sanggup berpisah dengan Allah. Kita tidak akan
mampu, jika tidak melibatkan Allah. Kalau pun bahagia? Apalah arti kebahagiaan
sesaat. Allah berikan semua yang kita inginkan hari ini, sementara esok lusa
terpuruk. Allah berikan semua kesenangan kepada kita di dunia ini, sementara
sesudah meninggal, kita disibukan dengan banyak urusan yang memberatkan di
akhirat. Kita semua tidak mau itu semua menimpa diri kita. Kita semua
menginginkan kebahagiaan yang sebenarnya, bukan kebahagiaan
saduran atau sementara.
Nah, apakah dalam bentuk sholat istikhoroh saja cara untuk melibatkan
Allah? Tidak. Tetapi memulai tindakan dengan membaca basmallah, wudhu,
sholat, berdo’a, menyertakan dzikir dalam setiap kondisi baik lapang maupun
sempit, menjaga konsistensi sholat di awal waktu dengan berjamaah. Juga amalan
wajib dan sunat lainnya.
Saya sendiri masih terus belajar, saat editing tulisan ini di warnet, saya sudah tidak punya wudhu, tapi saya coba sertai dengan istighfar. Semoga lain kali wudhu kita semua lebih terjaga. Aamiin. Jadi kita sama-sama belajar untuk
istiqamah. Semoga Allah melimpahkan kekuatan kepada kita untuk menjalankannya.
Aamiin.
Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
Gambar : Google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar