Halaman

Rabu, 12 Desember 2012

Dia Butuh : O-B-A-T

Apa yang membuat hati lebih tenang
Membuat hati lebih lapang
Lebih menerima
Lebih sabar
Lebih ridho
Di kala segala kesusahan menghampiri

Hanyalah mengingat bahwa

Semuanya kehendak Allah
Semuanya dari-Nya



Apa yang lebih indah dari berkorban untuk Allah
Apa yang lebih indah dari mengingat-Nya
Apa yang lebih menjadi obat selain mengingat-Nya
Dalam ibadah, dalam berserah diri
Saban waktu, saban hari

Tak ada... tak ada...

Assalamu'alaikum...

Sejak masih duduk di bangku MA, dia merasa badannya sering merasa lelah. Sampai saat ini, sampai dia menempuh studi perguruan tinggi. Hanya saja, banyak aktivitas yang melupakan dia akhir-akhir ini pada itu semua. Seolah-olah memaksakan diri, tapi tidak selalu, terkadang ia merasa sehat. Berobat ke dokter pun, sampai saat ini belum ada obat yang mempan. Hampir setiap dokter mengira, bahwa ini hanya persoalan psikologis saja. Dia bertanya  "Memangnya apa yang saya pikirkan?" Mungkinkah ini efek bahwa sejak lama, dia ingat sejak SD, semua orang boleh tidak percaya bahwa dia, anak sekecil itu, selalu punya pertanyaan untuk dijawab yang bukan oleh anak kecil, orang dewasa pun tidak semuanya mampu. Si lelaki kecil, rupanya sudah menerima beragam masalah tanpa sudah ada kemampuan untuk menjawabnya. Si lelaki kecil itu sudah bertanya soal-soal metafisika, dan terus menerus bersikap skeptis. Ia tidak mau menyatakannya pada orang lain, kecuali dengan air mata yang mengundang tanya. Ia bisa amat tertutup, sebab ia tahu persoalannya bukan untuk diketahui orang lain, biarlah ia menyimpannya sampai ia bisa menjawabnya sendiri. Setelah ia dewasa.

Perlahan-lahan Allah berperan, menggiringnya. Ke suatu alam pikiran, yang terang benderang, sampai perlahan-lahan ia tahu, bahwa jawabannya adalah bahwa dirinya yang semakin rindu mendekat kepada Allah, menunaikan tugas-tugas-Nya. Berserah diri dalam senang maupun duka. Kelak ia merindukan orang-orang yang sama mencintai Allah berkumpul bersamanya, menunaikan tugas-tugas-Nya. 

Kawan, tiada pertanyaan paling sederhana tetapi paling dalam, dan tidak setiap orang bisa menjawabnya adalah : Siapakah Allah & siapakah diri kita? Ya Allah adalah Tuhan kita, diri ini adalah mahluk-Nya yang diciptakan atas kehendak-Nya dan kekuasaan-Nya. Kita bertugas mengabdi kepada-Nya. Kematian menjadi akhir cerita kita di dunia, dan kelak menemui-Nya di akhirat dengan mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan. 

Ketika berpikir tentang dirinya sendiri, lelaki itu sering terbaring dan bertanya mengapa diri ini punya keinginan, punya sepasang mata, tangan, kaki, bisa merasakan sedih, gembira, tenang, atau gusar. Siapakah yang mau diri ini ada? Ia bertanya pada dirinya sendiri: Pernahkah saya mengajukan keinginan, untuk hidup, untuk jadi seorang lelaki, dan tinggal di sini, atau jadi seorang manusia? Ia mengaku: Tidak! Lalu siapa? Sampai ia bisa bernafas, bisa berbicara, mengajar, bertemu orang-orang, mendapatkan berbagai ujian, jalan ke pasar, ke warteg, bisa tertawa, bisa mengerti bahwa dia sebenarnya tidak sakit. Jawabannya hanya satu : Allah. Allah yang berkehendak dan berkuasa atas semua kejadian.

Ia kemudian masih ditakdirkan merasa sakit, merasa lelah. Ia bahagia, cukuplah Allah jawabannya, obatnya. Ia pun memohon kepada Allah, semoga ia diberi karunia seorang kawan hidup yang selalu dekat kepada-Nya, yang akan menemani hari-harinya mendekat kepada Tuhannya. Menemani air matanya dalam malam-malam yang hening. Yang selalu mengingatkan akan kebaikan-kebaikan, menganjurkannya selalu bersyukur sebagai kekayaan yang tiada bandingannya, yang kelak menjadi bidadari surga di rumahnya. Menjadi obat yang menambah kesembuhannya. Ia merasa Allah sedang menjawab do'anya perlahan-lahan.

Gambar : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar