Halaman

Minggu, 16 Desember 2012

Diri Kita, Bukti Keharusan Kita Ibadah

Bismillahi rrahmaani rrahiim...

Assalamu'alaikum...

Saudaraku semua, semoga kita senantiasa ada dalam lindungan Allah dari setiap hal yang mencelakakan. Dari setiap godaan yang menjerumuskan, yang tiada henti-hentinya mencari celah dalam kelengahan kita. Dari lalai hati mengingat Allah, semoga kita dihindarkan. 

Kita semua berharap, Allah senantiasa jadi yang diingat pertama kali tatkala kita susah maupun senang. Jadi yang dimintai izin pertama kali sebelum melangkahkan kaki ke sekolah, kampus, ke pabrik, ke mana pun. Kepada Allah kita bersyukur, mengucapkan terimakasih paling awal tatkala menerima gaji, menghitung laba, menerima upah, menerima uang saku, naik jabatan, sembuh dari sakit. Bukan ke dokter dulu, tapi ke Allah dulu, baru ke dokter. Kita disembuhkan dari sakit oleh Allah. Ucapkan hamdalah dulu.

Saudaraku semua, ingatkah kapan kita meminta untuk dihidupkan? Tentu tidak, sebab tidak pernah meminta, di awal kejadian kita belum memiliki keinginan. Lalu siapa yang berkehendak? Apakah orang tua kita yang menghidupkan diri kita dengan rupa kita sekarang? Bukan, mereka tidak tahu menahu bagaimana kamu hidup dan tumbuh besar kecuali hanya menyuapimu, menyuruhmu makan, istirahat, atau menyuruhmu mandi. Mereka tidak merasa membuat rupamu lebih mirip ke ayahmu atau ibumu, atau seimbang antara keduanya. Lalu siapa yang membuatmu hidup dan memiliki rupa tertentu? Dialah Tuhan Yang Maha Esa, mengehendaki kita hidup dan memiliki rupa, lantas memelihara kita sampai sekarang. 

Allah telah memberi kita sepasang mata, sehingga kita begitu nyaman melihat benda-benda. Sepasang telinga dengan desain yang sempurna, sehingga kita mampu mendengar dengan jelas. Lidah untuk bercakap-cakap dan menikmati makanan. Allah juga menghadiahkan sepasang tangan, menggratiskan sepasang kaki kepada kita. Dengan keduanya kita bekerja. Belum lagi yang ada dalam perutmu, jantung di dadamu, lain-lain dalam kepalamu. Tiap tetesan darah, tiap denyut nadi, tiap butir sel di ususmu, daging dan kulitmu.

Kita tidak pernah meminta itu semua. Tapi nyatanya kita begitu mencintai kehidupan yang tidak pernah kita minta ini. Nyatanya kita begitu takut sakit, takut celaka. Nyatanya kita menyayangi diri kita sendiri, dan selalu menginginkan kebahagiaan.

Lagi-lagi ini mengingatkan kita betapa kita harus bersyukur. Jadi bukti yang nyata, bahwa orang yang lalai dari ibadah, amatlah nista. Kita sepatutnya bersyukur, beribadah sebaik-baiknya, tidak peduli Anda seorang pelajar, guru, pedagang, pelayan, tukang bangunan, kuli, doktor, semuanya sama di hadapan Allah. semuanya berkewajiban mengabdi/beribadah kepada-Nya. Tidak dipandang siapa diri Anda, seberapa tinggi kedudukan dan seberapa luas pengaruh Anda, jika Allah memanggil, Allah lah yang Maha Tinggi, tidak ada yang sanggup menandingi kebesaran-Nya, maka bersegeralah menemui panggilan-Nya, sempatkan diri kita dan lapangkanlah hati kita seluas-luasnya untuk Allah, meski Anda dalam keadaan sangat sibuk, sangat terdesak, sedang diamuk badai masalah, sedang merasa payah.

Semoga kita semua, termasuk golongan orang-orang yang selalu ingat akan karunia-karunia Allah, dan selalu bersemangat untuk mengungkapkan rasa terimakasih dan rasa syukur kita dengan cara menolak setiap kejelekan dan larangan-larangan Allah, serta menyempurnakan ibadah kepada Allah. Aamiin.

Alhamdulillah...

Gambar : Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar