Bismillahirrahmaanirrahiim...
Waktu saya mengetahui salah satui teman dekat saya keluar dari grup
“Silih Ingetan” (group di FB yang saya kelola sebagai wadah berbagi ilmu manfaat,
mudah-mudahan Allah meridhoi, aamiin), saya kaget, dan saya bertanya dalam
hati: Mengapa? Saya toh mendedikasikan group ini untuk kebaikan, bukan untuk
sekedar main-main dan buang-buang waktu. Apakah dia membenci saya?
Mudah-mudahan bukan karena tidak menyukai tulisan-tulisannya, sebab saya atau
pun yang pernah nulis di “Silih Ingetan”, belum pernah saya temukan tulisan
yang mubah, apalagi suatu kejelekan.
Saya berpikir, mungkin ini peringatan buat saya, bahwa saya harus
berlatih untuk sabar. Biarlah toh, saya menulis juga atas kehendak Allah, kalau
pun tidak ada yang mau nyimak, kehendak Allah juga. Awalnya memang nggak enak hati, tapi masa
baru segini saja saya sudah susah? Bagaimana kalau saya suatu saat ada yang
ngehina? Ada yang mencaci maki? Mungkin saja kan? Tentu saja saya harus siap,
saya sadar setiap ada yang menyukai pasti ada pula yang tidak, bahkan mungkin berbalik membenci.
Bagi saya yang masih belajar, bersabar saja rupanya tidak cukup, bersabar
itu ternyata letih. Saya coba berpikir lagi, akhirnya pikiran saya dibukakan
Allah, alhamdulillah. Lebih dari sabar, ternyata saya juga perlu berprasangka
baik (khusnudzon). Saya harus berprasangka baik sama teman dekat saya
itu, mungkin dia keluar karena tidak tahu admin group “Silih Ingetan” itu
ternyata teman dekatnya sendiri. Atau tidak pernah menengok isinya, otomatis
tidak pernah tahu isi yang ditulis di “Silih Ingetan”, jadi dia berpikir
percuma saja gabung di group. Banyak
alasan-alasan untuk saya berprasangka baik. Dengan begitu, hati saya adem sama
sekali. Yang tadinya khawatir saya akan kikuk andaikata bertemu dengan teman
saya itu, jadi nggak khawatir lagi. Alhamdulillah.
Guru saya juga K. H. Cucu Syamsul Millah, S.Sy., pernah mengajarkan
untuk selalu berprasangka baik sama orang. Mau sebobrok dan sebejat apa pun.
Misalnya, baru-baru ini waktu saya antri wudhu di tempat wudhu mesjid
Al-Muhtariah dekat tempat kost saya, saya melihat ada laki-laki yang
bukannya sholat berjamaah, malah keluar dari rumahnya, nuntun motor terus
pergi. Kalau saya mau buruk sangka, saya bisa bilang di hati saya: “Nih orang males
betul!” atau “Wah, ini nih contoh generasi perusak ahlak!”, dan kata-kata buruk
lainnya. Tapi saya mencoba berprasangka baik, maka hati saya berkata:
“Barangkali dia sudah lebih dulu sholat maghribnya daripada saya, berjamaahnya
di rumah, dan dia buru-buru keluar mungkin ada urusan darurat.”
Saya memprotes saudara-saudara saya yang berjuang menegakkan Islam,
dengan berda’wah atau bentuk perjuangan lainnya, sedang mereka sinis sama orang
yang masih ngebangkang, mereka berburuk sangka sama yang belum istiqamah
sholat, sama yang belum bener puasanya, sama orang yang masih menyia-nyiakan
waktu. Berburuk sangka itu tidak perlu, malah tidak pantas, apalagi buat para
pejuang keyakinan.
Nah, bagaimana jika kita tidak mendapatkan satu alasan pun untuk
berprasangka baik saking mumetnya, atau sangat sulit rasanya untuk berprasangka
baik. Misalnya, tiba-tiba semua anggota grup “Silih Ingetan” menyatakan keluar
he..he...he… Tentu saja saya mengharapkan itu tidak terjadi. Mungkin dalam
situasi tersebut saya akan kesulitan untuk berprasangka baik. Tapi saya masih
punya cara, saya akan berprasangka baik sama Allah langsung. Bukankah Allah
pemain satu-satunya di dunia ini? Saya
yakin bahwa Allah selalu menggiring kita ke jalan yang lebih baik, selama kita
senantiasa mendekat kepada-Nya. Tidak ada yang sulit untuk berprasangka baik,
jika semua persoalan sudah dihadapkan kepada Allah.
Alhamdulillahirabbil'alamiin...
Gambar : Google
Tidak ada komentar:
Posting Komentar