Bismillahi rrahmaani rrahiim...
Assalamu'alaikum...
Guru saya di Manarul Huda, sepulang ibadah haji pernah mengemukakan sebuah ungkapan ironi, katanya kondisi di Masjidil-Haram sama di mesjid-mesjid kita nggak jauh beda, sholat di sana sama di sini sama-sama dilaksanakan 15 menit setelah iqomat, bedanya kalau di sana lama ngatur jajaran saking banyaknya jamaah, kalau di sini lama nunggu yang mau berjamaah, 15 menit nggak nongol-nongol.
Hal ini saya alami, waktu ashar tadi. Saya berangkat ke mesjid ingin sholat berjamaah. Saya sholat sunat rawatib qobliyah dulu. Selesai sholat sunat, saya melirik ke belakang, nggak ada orang satu pun. Terus saya pikir, kayaknya mesti iqomat dulu nih pake speaker, kali aja mereka merasa kepanggil, biar jadi motivasi. Sesudah iqomat, saya tunggu 5 menit, belum ada juga yang datang. Apakah karena gerimis? Tanya saya dalam hati. Tapi hujan sudah cukup reda. Oke, saya tambah lagi 5 menit. Tetep sepi. Saya denger ada orang jalan kaki pake sendal jepit, nggak tahunya hanya anak kecil lewat, sekali lagi saya denger orang jalan kaki, cuma orang lewat juga. Tukang cilok cuma lewat juga.
Saya diam. Rumah-rumah di kota begini banyak, dari mesjid cuma beberapa meter, berdempetan pula, tapi masyaAllah, tidak ada seorang pun pada saat itu yang tergerak hatinya melangkahkan kaki ke mesjid untuk menunaikan kewajiban kepada Allah, sholat berjamaah. Mungkin saya harus berprasangka baik, boleh jadi mereka berjamaah di mesjid yang lain yang jaraknya puluhan meter dari mesjd jami Al-Muhtariah ini. Atau...
Saya tidak menunggu sampai 15 menit. Rupanya Allah menghendaki saya sholat ashar sendirian hari ini. Padahal kalau saja kita tahu keutamaan berjalan kaki ke mesjid, salah satu riwayat menceritakan
Dari Ubay bin Kaab dia berkata: “Ada seorang dari golongan sahabat Anshar yang saya tidak mengetahui seseorang pun yang rumahnya lebih jauh letaknya dari rumah orang itu jikalau hendak ke masjid, tetapi ia tidak pernah terlambat oleh sesuatu shalat (yakni setiap shalat fardhu ia mesti mengikuti berjamaah, pent.). Lalu dikatakan kepadanya, “Alangkah baiknya jikalau engkau membeli seekor keledai yang dapat engkau naiki di waktu malam gelap gulita serta di waktu teriknya panas matahari.” Dia menjawab, “Saya tidak senang kalau rumahku itu ada di dekat masjid, sesungguhnya saya ingin kalau jalanku sewaktu pergi ke masjid dan sewaktu pulang dari masjid untuk kembali ke tempat keluargaku itu dicatat pahalanya untukku.” Maka Rasulullah bersabda, “Allah telah mengumpulkan untukmu pahala kesemuanya itu (yakni waktu pergi dan pulangnya semuanya diberi pahala, pent.).” (HR. Muslim)
Biarlah pahala menjadi urusan Allah, yang terpenting adalah penghambaan diri kepada Allah memang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sebagai ungkapan rasa syukur. Apalah sebutan bagi kita yang berleha-leha untuk bersyukur kepada Allah? Padahal karunia-Nya begitu besar, begitu berlimpah kita gunakan setiap saat. Pancaindera, anggota tubuh, udara, alam raya, air, darah yang mengalir dalam nadi, tenaga... Bahkan seandainya kita sholat sepanjang waktu, sepanjang hidup kita pun, rasanya belum cukup untuk mensyukuri semua ni'mat-ni'mat Allah yang tidak terhingga banyaknya. Tapi, subhanallah, Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Allah begitu pengertian akan kelemahan kita, sehingga cukup 5 waktu saja dalam sehari semalam kita diwajibkan menyembah-Nya. Jadi apa sulitnya? Alhamdulillah....
Gambar : Google
Hadist : al-atsariyyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar